
Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan TikTok Shop sudah jadi andalan sebagian besar pelaku UMKM Indonesia untuk berjualan online. Lebih dari 70 persen UMKM di tahun 2025 tercatat memanfaatkan marketplace sebagai kanal penjualan utama. Namun di tengah dominasi ini, tren 2026 justru menunjukkan arah sebaliknya: website milik sendiri semakin dibutuhkan, bukan makin ditinggalkan.
Website Bukan Lagi Sekadar Etalase
Selama ini banyak pemilik usaha menganggap website hanya sebagai pelengkap, sekadar tempat menaruh profil perusahaan. Memasuki 2026, fungsi website bergeser jauh lebih jauh dari itu. Website kini berperan sebagai mesin pertumbuhan bisnis yang menopang branding, operasional, sampai penjualan sekaligus, mulai dari integrasi sistem, pengelolaan inventori, hingga strategi SEO yang terarah.
Pergeseran ini penting karena marketplace pada dasarnya adalah lahan sewaan. Algoritma, biaya platform, dan visibilitas produk sepenuhnya berada di tangan pihak marketplace, bukan pemilik bisnis. Website sendiri memberi kendali penuh atas branding, data pelanggan, dan pengalaman belanja, sesuatu yang tidak bisa didapat sepenuhnya lewat marketplace.
SEO dan Keamanan, Dua Hal yang Tidak Bisa Ditawar
Tantangan terbesar UMKM di 2026 bukan lagi sekadar punya website, melainkan bagaimana bisnis bisa mudah ditemukan calon pelanggan di mesin pencari. Masalahnya, mayoritas UMKM di Indonesia masih menghadapi kendala dasar dalam optimasi ini, mulai dari website yang lambat diakses, struktur SEO yang kurang tepat, sampai minimnya konten yang relevan dengan kebutuhan pasar. Website yang tidak dioptimasi dengan baik pada akhirnya sulit bersaing di pencarian organik, meskipun secara desain terlihat bagus.
Selain SEO, keamanan website juga jadi faktor kepercayaan yang makin krusial, apalagi setelah data menunjukkan UMKM kini menjadi target utama peretas. Website yang menyimpan data pelanggan tanpa standar keamanan yang memadai berisiko sama seperti sistem bisnis lain yang dibangun asal jadi.
Tren yang Membuat Website Makin Terjangkau
Kabar baiknya, membangun website bisnis yang solid kini tidak lagi harus mahal atau butuh tim developer besar. Data dari Crossover pada 2026 mencatat pendekatan backendless atau backend-as-a-service kini dipakai oleh hampir 40 persen startup tahap awal, karena mampu memangkas waktu pengembangan 30 sampai 50 persen tanpa perlu merekrut tim backend khusus di fase awal. Tren teknis ini pada akhirnya menguntungkan pelaku bisnis kecil, karena biaya dan waktu pembuatan website bisa lebih efisien dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Selain itu, jenis website yang makin diminati juga bergeser ke arah yang lebih fungsional, seperti micro-ecommerce, website yang terintegrasi AI untuk personalisasi konten, dan progressive web app yang bisa diakses layaknya aplikasi mobile tanpa perlu diunduh dari app store.
Kombinasi Website dan Marketplace, Bukan Salah Satu
Alih-alih memilih salah satu, strategi yang paling relevan bagi UMKM di 2026 adalah menggabungkan keduanya. Marketplace tetap efektif untuk menjangkau pembeli baru dengan cepat, sementara website sendiri berfungsi membangun kepercayaan jangka panjang, menyimpan data pelanggan, dan menjadi pusat kendali brand yang tidak bergantung pada kebijakan pihak ketiga. Integrasi omnichannel, di mana marketplace, media sosial, WhatsApp, dan website saling terhubung dengan pengalaman yang konsisten, menjadi kebutuhan yang makin nyata bagi UMKM yang ingin bertahan dan tumbuh di pasar digital.
Bagi UMKM yang belum punya website atau ingin membangun ulang website yang sudah ada agar lebih optimal, Trixilabs membantu merancang website bisnis yang dibangun sesuai kebutuhan operasional masing-masing usaha, mulai dari konsultasi kebutuhan di awal hingga dukungan setelah website diluncurkan. Sebelum memulai, ada baiknya juga memahami kisaran biaya dan cara memilih software house yang tepat agar tidak kaget dengan biaya tersembunyi di tengah jalan.
